Pemko Subulussalam Selenggarakan Upacara Peringatan Hardikda Aceh 59 Tahun 2018

Kategori : Berita Kota Senin, 03 September 2018 - Oleh admkota

Pemko Subulussalam Selenggarakan Upacara Peringatan Hardikda Aceh 59 Tahun 2018

Reporter MC Kota Subulusssalam

Subulussalam, Info Publik-Jajaran Pemerintah Kota Subulussalam mengikuti Upacara Hardikda Aceh ke 59 Tahun 2018 Tingkat Kota Subulussalam sebagai Irup Dandim 0118/Subulussalam Letkol Inf Winarko, S. Ag. M. Tr (han) dengan tema “ Aceh Carong Menuju Era Industri 4.0 “, bertempat di Lapangan Sada Kata Subulussalam Komplek Perkantoran Pemko, Senin (3/9).

Sebagai Komandan Upacara adalah Muzakir salah seorang pembina pramuka pada Kwarcab Kota Subulussalam, Perwira Upacara Joni Arizal, S. STP. M. Si Kabag Organisasi Setdako Subulussalam.

Sementara peserta upacara diikuti PNS, Tenaga Honorer, Personil Dishub, Anggota Satpol PP dan WH, Siswa-siswi SD, SMP, SMA sederajat.

Sambutan Gubernur Aceh yang dibacakan Inspektur Upacara menyebutkan bahwa peringatan Hardikda Aceh bukan semata-mata bentuk dari manifestasi keistimewaan Aceh di bidang pendidikan, tapi juga merupakan bagian dari komitmen kita dalam menempa kader-kader terdidik bangsa yang ber-akhlakul karimah.

Sekaligus, juga menjadi pencerminan dari keterpanggilan jiwa kita untuk menempatkan sumber daya manusia terdidik pada posisi terhormat, sebagai salah satu prioritas pembangunan yang harus dijalankan di daerah khusus lagi istimewa ini, ucap Gubernur.

Menurutnya melalui momentum Hardikda ini, kita perteguh tekad untuk dapat melahirkan generasi muda Aceh yang cakap, religius, kreatif, inovatif, inventif, pekerja keras, berdaya saing tinggi, serta memiliki karakter keacehan yang kental.

Dengan generasi berkualitas, kita pasti akan mampu membawa perubahan yang terbaik bagi Aceh di masa depan dan akan lebih potensial untuk mewujudkan “Aceh Hebat”.

Gubernur Aceh menegaskan begitu pentingnya pembangunan sektor pendidikan bagi pembangunan Aceh masa kini dan masa depan, maka Pemerintah Aceh menempatkan bidang pendidikan sebagai salah satu program prioritas di dalam RPJM 2017-2022.

Program itu kita namakan “ Aceh Carong ” atau Aceh Cerdas, dengan sasaran utamanya, antara lain, penguatan pendidikan vokasional di berbagai bidang, penyediaan fasilitas pendidikan yang lengkap, pemerataan rasio guru di seluruh daerah.

Peningkatan kompetensi guru, penyediaan beasiswa bagi anak yatim dan anak miskin, serta beasiswa bagi putra-putri Aceh yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri, sebutnya.

Gubernur menyebutkan untuk mendukung program tersebut Pemerintah Aceh tidak hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sekitar 20 persen dari APBA, tapi juga diperkuat pula dengan dukungan dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA).

Di era ini, kita berharap pendidikan hendaknya dapat mengajarkan siswa keterampilan yang bukan saja kreatif dan inovatif, tapi juga inventif; dalam artian pandai merancang dan mencipta sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada, pintanya.

Untuk mencapai target tersebut, semua pihak tentu harus terlibat secara terintegrasi dalam mendukung program-program yang telah disiapkan pemerintah.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah telah mengatur dengan jelas kewenangan dalam penyelenggaraan pendidikan ini, sehingga langkah perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dapat dijalankan secara lebih bersinergi dan terpadu.

Dengan demikian, kita dapat menjamin adanya pemerataan akses dan mutu pendidikan di seluruh Aceh, serta memastikan bahwa sistem pendidikan itu siap melayani semua masyarakat tanpa diskriminasi, ujar Gubernur.

Ikhtiar yang telah kita jalankan selama dua tahun terakhir ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan setidaknya sebanyak 5.282 siswa asal Aceh lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri tahun 2018 ini.

Jumlah ini menempatkan Aceh pada ‘peringkat lima besar’ sebagai Provinsi yang paling banyak meloloskan siswa-siswinya dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, dan ‘peringkat ketiga’ Nasional sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi.

Begitupun dengan peningkatan kompetensi guru menunjukkan perbaikan. Jika pada tahun 2015 kompetensi guru-guru di Aceh berada pada urutan 3 terendah secara Nasional, maka pada tahun 2016 mulai meningkat hingga berada pada posisi 23 Nasional.

Lonjakan cukup signifikan terjadi pada tahun 2017 dimana hasil uji kompetensi guru menempatkan guru-guru di Aceh pada peringkat 15 Nasional. Bahkan pada tahun ini, beberapa guru Aceh berhasil meraih penghargaan sebagai guru berprestasi Nasional, sebutnya.

Gubernur mengingatkan untuk tidak cepat bangga, sebab pencapaian itu masih jauh dari harapan. Perlu pembenahan dan penguatan yang lebih komprehensif dalam membangun sistem pendidikan di daerah ini melalui berbagai prorgram peningkatan mutu yang berkesinambungan.

Kita harus terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang terukur. Agar hal tersebut berjalan dengan baik.

Maka para pihak terkait, seperti kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, komite sekolah, manajemen penyelenggara, dan masyarakat harus dapat meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Pemerintah Aceh siap melakukan yang terbaik dalam mendukung langkah percepatan di bidang pendidikan ini dan akan memberikan reward-penghargaan yang pantas kepada mereka yang berprestasi cemerlang di bidang pendidikan.

Dengan semua program tersebut, dalam tiga tahun ke depan kita berharap kualitas Pendidikan Aceh mampu bersaing di tingkat Nasional dan Internasional. Perlu saya ingatkan, saat ini dunia telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 atau revolusi industri tahapan keempat.

Hal ini memberi makna bahwa teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Batas-batas antar negara semakin menipis dan e–commerce (sistem dagang internet) semakin berkembang sehingga menyentuh semua lini kehidupan masyarakat.

Gubernur mengingatkan kita agar tanggap dan mampu menyesuaikan diri dengan gerak pembangunan itu, di samping harus senantiasa dapat mempertahankan budaya bangsa sebagai benteng moral dalam mengawal perubahan zaman.

Dengan begitu, maka generasi muda Aceh mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan Globalisasi, serta dapat mengontrol Globalisasi itu, untuk disesuaikan dengan nilai luhur bangsa kita. Lebih khusus lagi dengan nilai-nilai keacehan yang luhur.

Turut hadir, Wakil Walikota Subulussalam Ds. Salmaza, MAP, Ketua MPU Kota Subulussalam H. Azharuddin Paetek, Ketua PN Singkil Sayid Tarmizi, SH. MH, Sekda Kota Subulussalam H. Damhuri, SP. MM

Kapolsek Simpang Kiri mewakili Polres Iptu Agung Pratomo, Kasubag Pembinan Kejari Kota Subulussalam Yusril Ardi, S. Kom. SH. M.CIO, Kepala SKPK, Camat, Kepala Sekolah dan undangan lainnya.