Wakil Ketua TP PKK Aceh Launching Rumah Gizi Kampong

Kategori : Berita Kota Minggu, 01 Desember 2019 - Oleh admkota

Wakil Ketua TP PKK Aceh Launching Rumah Gizi Kampong

Reporter MC Kota Subulussalam

Subulussalam, Info Publik- Wakil Ketua TP PKK Aceh Dr. Dyah Erti Idawati, MT  resmi melaunching Rumah Gizi Kampong (RGK) di Posyandu Pelawis Pos  1 Subulussalam Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam, minggu (1/12/2019).

Wakil Ketua TP PKK Aceh beserta rombongan, Walikota Subulussalam H. Affan Alfian, Ketua TP PKK Hj. Mariani Harahap dan Wakil Rahmadiani, MAP, Ketua Dharma Wanita Persatuan Samijawati, Ketua DPRK Ade Fadly Pranata, Kasdim 0118/Subulussalam Mayor Inf. Ramdhan, SIP  disambut tarian dampeng dan tarian ranup lampuan.

Mengawali acara Risdawati, Ama. Pd membaca lantunan ayat suci Al quran, dilanjutkan pembacaan sholawat badar, menyayikan lagu Indonesia Raya dan Mars PKK oleh Paduan Suara PKK Kota Subulussalam.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampong Kota Subulussalam selaku ketua penyelenggara Abdul Saman Sinaga, SH menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang bekerja keras dalam mensukseskan kegiatan hari ini.

Ucapan terima kasih juga kepada Wakil Ketua TP PKK Aceh yang telah hadir dalam rangka launching rumah gizi kampong atau RGK, pungkasnya.

Dalam momentum yang berbahagia ini Sahman Sinaga memohon kepada Ibu Wakil Ketua TP PKK Aceh untuk memperhatikan Kota Subulussalam sebagai si-anak bungsu.

Dikatakannya bahwa penanganan stunting  adalah tanggungjawab bersama semua pihak bukan saja pemerintah. Peran serta masyarakat sangat penting untuk mengatasi persoalan stunting, ucapnya.

Desa harus menyisihkan anggarannya untuk mengatasi stunting di wilayahnya. Dalam penganggaran tentu diharapkan desa melakukan koordinasi dan komunikasi dengan posyandu dan puskesmas agar program tidak tumpang tindih, pintanya.

 

(Foto :  Ibu Dyah sedang menyampaikan kata sambutan)

Upaya pencegahan dan penanganan stunting untuk tingkat Desa, salah satunya melalui penerapan Rumah Gizi Kampong (RGK) ucap Ketua TP PKK Kota Subulussalam Hj. Mariani harahap mengawali kata sambutannya.

Adanya RGK sebagai sarana untuk meningkatkan pemahaman seluruh stekeholder terkait dan masyarakat. Menggalang komitmen dan peran serta masyarakat agar upaya pencegahan dan penanganan stunting dapat dilaksanakan secara terintegrasi dan terpadu melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat kampong.

Menurutnya,  Indonesia terus menyerukan dan mengupayakan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), karena kualitas manusia ditentukan sejak  dari awal masa kehamilan sampai seribu hari pertama kehidupan, yang merupakan periode emas bagi tumbuh kembang seorang anak, yaitu 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada 2 tahun pertama kehidupan seorang anak, pungkasnya.

Disebutkannya bahwa dampak dari kebutuhan zat gizi yang tidak terpenuhi dapat mengakibatkan masalah yang berkaitan dengan status gizi seperti gizi buruk, gizi kurang, dan stunting yang saat ini menjadi permasalahan yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia  termasuk di Provinsi Асeh, khususnya Kota Subulussalam .

Target dari RGK adalah keluarga dan masyarakat, penekanan pada seribu Hari Pertama Kehidupan (1000-HPK) pada Ibu Hamil. Dalam penerapan rumah gizi kampong ada 3 fokus utama pelaksanaan kegiatan yakni, pertama pelayanan gizi pada kelompok resiko ibu hamil, balita gizi buruk dan balita gizi kurang, melalui pemberian makanan tambahan suplementasi dan pelayanan gizi lainnya.

Kedua, edukasi dan peningkatan kapasitas keluarga, pengasuh dan masyarakat. Ketiga, penguatan ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan keluarga dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kegiatan lainnya sesuai kondisi lokal kampung.

Diharapkan dengan penerapan Rumah Gizi Kampong disetiap desa, upaya pencegahan dan penanganan Stunting dapat lebih maksimal dengan keterlibatan lintas sektor pelaksana kegiatan terintegrasi sesuai dengan peran masing-masing.

 

(foto : Penandatangan Naskah Deklarasi Pencegahan Stunting) 

Sehingga anak-anak Aceh dan di seluruh Kota Subulussalam menjadi anak-anak yang cerdas, berkualitas dan bebas stunting. Ayo bersama-sama kita perangi stunting dengan pemenuhan gizi yang cukup, pola asuh yang baik, imunisasi lengkap dan sanitasi serta air bersih sebagai bentuk upaya kita dalam "Pencegahan dan Penanganan stunting"

Sementara Walikota Subulussalam H. Affan Alfian menyebutkan launching Rumah Gizi Gampong adalah  bentuk implementasi pencegahan dan penanganan masalah stunting,  dimana stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, pungkasnya.

Kondisi gagal tumbuh pada anak balita ini, disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama, serta terjadinya infeksi berulang, dan kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai. Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak, anak stunting juga memiliki resiko lebih tinggi menderita penyakit kronis dimasa dewasanya., ucapnya.

Jumlah anak yang mengalami stunting pada usia balita, di Kota Subulussalam tahun 2017 adalah 20,3%, pada tahun 2018 balita stunting berjumlah 985 Orang, dan tahun 2019 berjumlah 1.765 Orang.

Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Sejalan dengan inisiatif percepatan penurunan stunting, pemerintah meluncurkan rumah gizi gampong, yang merupakan tempat penyediaan makanan bergizi bagi ibu hamil, bayi dan balita sebagai upaya memberantas stunting.

 

(Foto : Ibu Dyah memberikan bingkisan kepada Keuchik Subulussalam didampingi Ketua TP PKK dan Wakil serta Ketua DWP)

Dikatakannya, pelaksanaan Rumah Gizi Kampong tersebut berdasarkan amanat Peraturan Gubernur Aceh Nomor 14 tahun 2019 tentang upaya pencegahan dan penanganan stunting di Aceh, dan sebagai suatu bentuk komitmen dari Pemerintah Kota Subulussalam juga telah disahkan Peraturan Walikota Subulussalam Nomor 16.A Tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanganan stunting Terintegrasi.

Walikota mengatakan Insya Allah, Peraturan Walikota tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi, maka semua kampong harus sudah disiapkan. “ Pada tahun 2020 seluruh kampong di Kota Subulussalam wajib menjalankan pencegahan dan penanganan stunting yang berimplementasi sebagai Rumah Gizi Kampong.

Sesuai dengan Peraturan Walikota  itu juga , perkuatkan posyandu dengan mengintegrasikannya dengan PAUD. Upaya penurunan stunting akan lebih Efektif, apabila intervensi gizi spesifik dan sensitif dilakukan secara terintegrasi atau terpadu., katanya.

Upaya penurunan stunting dengan Intervensi gizi spesifik, untuk menyasar penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif, untuk menyasar penyebab tidak langsung. Untuk mewujudkan cita-cita bersama maka perlu peran lintas sektor, yaitu sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Sektor perikanan dan pemasaran, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampong serta Bappeda.

Sektor-sektor ini  merupakan pemain penting dalam mewujudkan harapan kita yaitu mencegah serta menangani permasalahan stunting di Kota Subulussalam ini.

 

(Foto : Ibu Dyah melihat-lihat penanganan stunting)

Walikota mengajak  semua, agar mengutamakan pemberian makanan bergizi, kepada anak-anak berusia balita, dan Ibu hamil, sebab perkembangan otak anak sudah dimulai sejak dalam kandungan, sampai usia dua tahun setelah lahir atau disebut dengan istilah Seribu Hari Pertama Kehidupan.

Dengan demikian diharapkan agar memakan  makanan bergizi seperti makan Ikan dan sayur bisa menjadi kebiasaan di rumah dan anak yang lahir bisa terhindar dari masalah Stunting, tuturnya.

Walikota berharap agar Rumah Gizi Kampong ini terus berjalan permasalahan gizi di Kota Subulussalam khususnya yang merupakan daerah yang kaya akan pangan, baik pangan nabati maupun pangan hewani dapat dicegah dan ditangani, pintanya.

Sejalan dengan penyampaian Ketua TP PKK Kota Subulussalam dan penyampaian Walikota Subulussalam  Wakil Ketua TP PKK Provinsi Aceh Dr. Dyah Erti Idawati, MT mengingatkan kepada pemangku kebijakan di Kota Subulussalam bahwa Kota Subulussalam adalah rekor tertinggi masalah stunting di Aceh. Maka ia mengingatkan semua pihak agar serius menangani persoalan ini, pungkasnya.

Ibu Dyah meyakini bahwa Kota Subulussalam yakin dan mampu mengatasi persoalan ini. Penganggaran semua instansi dan desa harus dipantau jangan dibiarkan, dikhawatirkan program penanganan stunting ini tidak terakomodir, sebutnya.

Dikatakannya, pembangunan Sumber Daya Manusia yang unggul ini tentunya diperlukan dari tingkat Pemerintahan dan meningkatkan kualitas hidup manusia termasuk adalah bagaimana penyadaran tentang asupan gizi yang baik bagi keluarga dalam mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi.

 

(Foto : Ibu Dyah bersama rombongan memasuki acara)

Terkait dengan makanan, kita perlu memikirkan asupan gizi yang ada didalamnya sehingga dapat berguna bagi tubuh kita hal tersebut sangat penting karena kesehatan itu sangat mahal, jadi marilah kita jaga asupan gizi bersama, jangan sampai warga Kota Subulussalam terkena penyakit gizi buruk, sebutnya.

Asupan gizi khususnya bagi ibu hamil dan anak-anak balita sangatlah penting dan kita harus punya kepedulian terhadap kesehatan mereka. 

Kondisi stunting di Aceh menempati yang urutan tertinggi ke-3 di seluruh Indonesia dan untuk Kota  Subulussalam ini menempati urutan tertinggi di Prov. Aceh yang angkanya  kalau diatas kertas dari data riskesdas 2018 adalah mencapai 49%.

Penanganan dan pencegahan secara kolaborasi artinya tidak secara sektoral dan tidak secara sendiri-sendiri tetapi secara bersama-sama karena secara bersama-sama akan mendapatkan hasil yang maksimal sehingga pencegahan dan penanganan itu diharapkan bisa diatasi dan dicegah oleh desa secara mandiri melalui Dana Kampong.

Harapannya nanti tidak ada lagi masyarakat ataupun anak-anak yang kekurangan gizi karena di level Kampung sudah mengerti edukasi bagaimana tentang nutrisi serta kesehatan ibu hamil maupun anak-anak nantinya.

Mari kita budayakan gemar makan ikan, gerakan makan ikan yang harus dikonsumsi oleh ibu hamil dan anak-anak balita adalah protein hewani dan protein hewani yang paling bagus adalah dari ikan.

Aceh adalah penghasil ikan segar yang cukup tinggi akan tetapi saya mendengar bahwa untuk Kota Subulussalam sangat kekurangan suplai Ikan, untuk itu saya tekankan kepada Ketua TP PKK Kota Subulussalam agar menciptakan program budi daya ikan besar-besaran di Kota Subulussalam, pintanya.

 

 

 

 

(Foto : Tari Dampeng menyambut Ibu Dyah dan rombongan)

Setelah pembacaan doa oleh Ketua Baitul Mal Kota Subulussalam Ust. Sabaruddin, Walikota Subulussalam H. Affan Alfian membacakan Naskah Komitmen Bersama Deklarasi Pencegahan Stunting dilanjutkan dengan penandatangan diawali oleh Wakil ketua TP PKK Aceh, Walikota, Ketua TP PKK Kota Subulussalam dan unsur lainnya.

Dilanjutkan dengan pemotongan pita tanda diresmikan Rumah Gizi Kampong oleh Ibu Wakil Ketua TP PKK Aceh Dr. Dyah yang didampingi Walikota, Ketua TP PKK dan Wakilnya, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Subulussalam, Ketua DPRK dan Ketua Komisi D DPRK Subulussalam.